Semangat Marhaenis

Desak Tuntaskan Kasus HAM di Pasuruan, Aliansi Pemuda Lurug Kantor Pemkab

DPC GMNI Pasuruan berserta aliansi Mahasiswa lainnya (PMII dan BEM Kampus Se-Pasuruan), mengunjuk rasa Bupati Pasuruan agar segera menyelesaikan konflik sengketa kepelikan lahan, antara warga Alastelogo, Kecamatan Lekok dengan Kolatmar TNI AL Grati. Kamis (17/7/2019).

Masa Aksi yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Pasuruan ini, tiba sekitar Pukul 13.00 Wib dan langsung melurug Kantor Bupati Pasuruan dengan membentangkan poster tuntutan.

“Sengketa lahan (di Alastelogo) ini sama sekali tidak mengundang perhatian dari pemerintah daerah. Kami meminta agar Bupati tidak diam dengan kondisi rakyatnya saat ini,” kata Musa, orator dari GMNI Pasuruan.

Tak hanya berorasi, masa aksi juga melakukan teatrikal dengan kostum ala petani, untuk menggambarkan kondisi warga sekitar Alastlogo yang tengah berhadapan dengan TNI AL. Disisilain, sejumlah petugas Satpol PP dan Kepolisian berjaga didepan masa aksi.

Ketua DPC GMNI Pasuruan, Abdul Hamid juga menyinggung sejumlah nominasi penghargaan yang diterima Pemkab Pasuruan, utamanya soal penghargaan dari Menkumham dengan nominasi Kota Peduli HAM.

“Prestasi ini justru merupakan ironi karena yang terjadi di lapangan, justru ditemukan pelanggaran HAM yang jelas-jelas bertentangan dengan UU tentang HAM,” ungkapnya.

Perundingan yang ditawarkan pejabat Pemkab Pasuruan untuk audiensi guna menampung aspirasi pun ditolak oleh masa aksi. Lantara, ketidak hadiran Bupati Pasuruan.

“Saat ini Bupati sedang dinas luar. Sehingga aspirasi massa dapat ditampung lebih dulu dalam audensi,” jelas Asisten 1 Pemkab Pasuruan, Anang Saiful Wijaya yang didampingi Kepala Bakesbangpol, M. Zainudidin.

Hingga Pukul 15.00 Wib, Zainuddin menegaskan jika massa memaksa menemui Bupati saat ini tidaklah memungkinkan.

“Silahkan kirim surat secepatnya, nanti kami buatkan nota dinas ke Pak Bupati untuk diagendakan pertemuan. Namun syaratnya hanya perwakilan 10 orang. Nanti Pak Bupati yang akan menentukan waktunya,” tukas Zainuddin.

Massa pun kemudian membubarkan diri dengan mengancam, agar pertemuan itu dapat digelar dalam kurun waktu maksimal dua pekan kedepan.

“Jika tidak ada jawaban sampai dua minggu, kami akan datang lagi dengan massa yang lebih banyak,” teriak kompak dari massa aksi. (Is/Is)

Related posts

Perlukah Hiburan Malam Ditutup?, ini Sikap GMNI Probolinggo

Redaksi DPD GMNI Jatim

GMNI Sumenep Gembleng 20 Kader Baru

Redaksi DPD GMNI Jatim

Momen Hari Lahir Pancasila, GMNI Jatim Ajak Masyarakat Kembali Bersatu

Redaksi DPD GMNI Jatim

Leave a Comment